Connect with us

Kalsel

Meniti Perjalanan Wali Mastur di Kampung Tinggiran Baru

Published

on

Penulis : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)

MARABAHAN, onlinekoranbarito.com – Senja perlahan turun ketika rombongan yang dipimpin CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S. sapaan akrab M. Jaya , memulai perjalanan menuju Desa Tinggiran, Kecamatan Mekarsari , Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Rabu (20/5/2026).

Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan silaturahmi kepada seorang ulama yang dikenal hidup dalam kesederhanaan dan diyakini sebagian masyarakat sebagai wali mastur atau wali yang menyembunyikan kemuliaannya, yakni TG. KH. Basman.

Berangkat dari Komplek Batola Residence Blok H Site III, Handil Pinang II, RT 12, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, rombongan menempuh perjalanan menuju kediaman TG. KH. Basman yang kini menetap di Desa Tinggiran. Meski berasal dari Amuntai, sosok beliau lebih dikenal sebagai pribadi yang memilih hidup jauh dari sorotan publik.

Nama TG. KH. Basman mungkin tidak begitu populer di kalangan masyarakat luas. Namun, bagi sebagian kalangan, rumah sederhana beliau kerap menjadi tujuan silaturahmi untuk meminta nasihat, doa, serta mengambil keberkahan.

Sesampainya di lokasi, azan Magrib berkumandang mengiringi langkah rombongan yang tiba di kediaman sang ulama. Pintu rumah kemudian dibuka oleh seorang perempuan paruh baya yang mengenakan mukena putih. Ia adalah istri TG. KH. Basman.

Dengan nada lembut, perempuan tersebut menanyakan asal dan maksud kedatangan rombongan.

“Ada apa, dari mana buhan pian?” tanyanya.

Salah seorang rombongan M. Ridho Tanjung Jaya yang merupakan putera Sulaiman kemudian menjelaskan tujuan kedatangan mereka untuk bersilaturahmi dan berkunjung kepada TG. KH. Basman.

Tak lama berselang, sosok yang ditunggu pun muncul. Dengan peci putih dan surban yang membalut tubuhnya, TG. KH. Basman berjalan menghampiri para tamu.

Penampilannya tampak sederhana seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya. Namun, kesederhanaan itulah yang justru menjadi ciri khas kehidupannya.

Dalam pandangan para murid dan orang-orang yang mengenalnya, ia dikenal sebagai sosok yang tidak terpaut oleh gemerlap kehidupan dunia. Ia memilih menjalani hidup dengan penuh kesahajaan dan menjauh dari berbagai bentuk kemewahan.

Menurut sejumlah riwayat yang berkembang di kalangan masyarakat, silsilah TG. KH. Basman disebut-sebut masih memiliki keterkaitan dengan ulama besar Banjar, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang lebih dikenal sebagai Datu Kalampayan.

Berbagai kisah karamah juga sering diceritakan oleh masyarakat yang mengenalnya. Salah satunya terjadi saat pelaksanaan haul KH Muhammad Zaini Abdul Ghani di Sekumpul, Martapura.

Kala itu, TG. KH. Basman dikisahkan menolak ajakan menumpang kendaraan dan memilih mengayuh sepeda ontel sembari mengenakan topi purun. Namun, menurut cerita yang beredar, beliau justru tiba lebih dahulu dibanding rombongan yang menggunakan mobil.

Dalam pertemuan tersebut, Sulaiman A.S. atau yang akrab disapa M Jaya kembali mengenang pesan yang pernah disampaikan KH Basman saat kunjungan sebelumnya.

Menurut Sulaiman, kala itu TG. KH. Basman memintanya untuk tidak memotong rambut dan bahkan memberikan julukan “Wali Bagalong”.

“Pian menyuruh ulun jangan memotong rambut,” ujar Sulaiman sambil mengingat pesan sang guru.

Meski terdengar sederhana, pesan tersebut diyakini memiliki makna yang mendalam bagi dirinya. Sebab dalam tradisi hubungan murid dan guru spiritual, setiap nasihat sering kali mengandung pelajaran batin yang tidak selalu dapat dipahami secara langsung.

Pada kesempatan itu, Sulaiman juga memohon doa kepada TG. KH. Basman. Dengan penuh takzim, ia menatap sang murabbi yang dihormatinya. Dalam tradisi yang diyakininya sebagai bentuk tabarruk atau mengambil keberkahan, Sulaiman mengungkapkan bahwa dirinya terbiasa meminta doa dan keberkahan dari para guru yang dikunjunginya.

Bagi sebagian kalangan, perjalanan menuju rumah seorang ulama bukan sekadar perjalanan fisik. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi ikhtiar untuk mempererat silaturahmi, menimba hikmah, serta mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu tampak dari penampilan ataupun kedudukan duniawi, melainkan dari ketulusan dalam mengabdi kepada Allah SWT dan sesama manusia. (***)

DPRD Kota Banjarmasin

Lensa Foto Kegiatan DPRD Kota Banjarmasin Mei 2026

Published

on

1. Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin M Isnaini Terima Silaturahmi dan Audiensi HMI Banjarmasin Perihal Buruh dan Kebersihan Lingkungan2. Rapat Paripurna Internal Perihal Perubahan Fraksi PDI Perjuangan (7/5/2026).

3. Fun Walk AMC 1st Anniversary Dihadiri Pimpinan DPRD Kota Banjarmasin M Isnaini Dukung Penuh Upaya Hidup Sehat dan Pererat Kebersamaan antarelemen Masyarakat (10/5/2026)/

4. DPRD Kota Banjarmasin Bersama Masyarakat Peringati May Day Diwakili Unsur Pimpinan M Isnaini (1/5/2026)

5. DPRD Kota Banjarmasin Berikan Perhatian Khusus Terhadap Jembatan Bromo (15/5/2026)

6. DPRD Banjarmasin Dorong Banjarmasin Recycle Center (BRC) Kelola Lebih Dari 10 Ton Sampah Per Hari (12/6/2026).

Foto : hms-dprdbjm/kb

Continue Reading

Kalsel

Sosok Sidik Jadi Tauladan Melayani Tamu

Published

on

Penulis : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)

TAPIN, onlinekoranbarito.com – Empat hari meninggalkan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, mungkin hanya sekejap dalam hitungan waktu. Namun bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan itu terasa jauh lebih panjang dari sekadar angka di kalender. Setiap kilometer yang dilalui seolah membuka lembar demi lembar pelajaran kehidupan yang tak tertulis di buku mana pun.

Dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman usai menjalankan tugas dan silaturahmi di berbagai daerah, rombongan yang dipimpin CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S., atau yang akrab disapa M. Jaya, menyempatkan diri berkunjung ke kediaman H. Sidik di Sungai Puting, Kecamatan Candi Laras Utama, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Sabtu (16/5/2026) siang.

H. Sidik dikenal sebagai salah satu murid dari Tuan Guru Syarwani, Sohibul Majelis Mahabbaturrasul Kunjungan tersebut bukan sekadar singgah melepas lelah, melainkan menjadi momentum silaturahmi yang sarat dengan nilai persaudaraan dan pelajaran batin.

Namun perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Rombongan sempat kesulitan menemukan alamat rumah yang dituju. Jalan-jalan perusahaan tambang yang bercabang membuat arah perjalanan beberapa kali membingungkan.

Melihat kondisi tersebut, Sulaiman A.S. langsung menghubungi H. Sidik melalui telepon. Dari seberang sambungan, petunjuk demi petunjuk diberikan hingga akhirnya rombongan mengetahui bahwa lokasi yang dimaksud berada di kawasan yang melewati sejumlah pos keamanan milik perusahaan tambang batu bara di bawah naungan PT Hasnur Group.

Menariknya, hampir seluruh petugas keamanan yang ditemui mengenal sosok H. Sidik. Nama pria sederhana itu rupanya begitu akrab di telinga para penjaga yang bertugas di kawasan tersebut.

Sesampainya di sebuah persimpangan jalan, rombongan disambut seorang lelaki berambut gondrong, mengenakan kaus sederhana dan bersarung. Dialah H. Sidik yang telah menunggu kedatangan tamunya.
Senyumnya menyambut hangat, seolah menghapus lelah perjalanan panjang yang sejak pagi membayangi rombongan.

Memasuki rumah, suasana kekeluargaan langsung terasa. Berbagai hidangan telah tersaji rapi. Tidak ada kesan dibuat-buat, semuanya mengalir dalam kesederhanaan yang tulus. Ia tampak sibuk memastikan setiap tamu mendapatkan pelayanan terbaik.

“Setiap tamu yang datang sudah menjadi kebiasaan kami untuk dimuliakan. Kehadiran pian-pian ke sini seperti membawa keberkahan dan menghapus dosa-dosa kami,” ujar Kancil sapaan akrab H. Sidik sambil tersenyum.

Ungkapan itu mengingatkan pada ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya memuliakan tamu sebagai bagian dari kemuliaan akhlak seorang muslim.

Perbincangan pun berlangsung hangat. Tidak ada perdebatan ataupun adu argumentasi. Yang terjadi justru sebuah muzakarah, saling mengingatkan dalam suasana penuh kekeluargaan.

Di tengah pembicaraan, H. Sidik menyampaikan kalimat sederhana yang terdengar singkat, namun menyimpan makna mendalam.

“Jadilah diri sendiri, jangan jadi Bang Sulaiman,” ucap Kancil sapaan akrab H. Sidik sambil menatap Sambialaw sapaan akrab Ihsan.

Sekilas kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi mereka yang memahami bahasa nasihat para pencari hikmah, ucapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak kehilangan jati dirinya dan tetap berjalan sesuai jalan yang telah Allah tetapkan baginya.

Percakapan kemudian semakin cair ketika istri H. Sidik, Nida Oktaria Riyatul Jannah, ikut bergabung.

Dengan gaya bicara yang lugas dan ceplas-ceplos, ia justru menghadirkan suasana akrab yang penuh kehangatan. Di balik tutur katanya yang terdengar tegas, tersimpan pribadi yang ramah dan dermawan.

Pada kesempatan itu, Nida memperlihatkan sebuah gambar seorang lelaki yang menurutnya memiliki kemiripan dengan Sulaiman A.S., baik dari raut wajah, rambut maupun gaya berbicara.

“Sidin nih mirip banar lawan yang ada di gambar di HP ulun nih ,” ujarnya memperliatkan gambar sambil tersenyum.

Tak lama berselang, suasana berubah menjadi lebih hening ketika pembicaraan menyentuh persoalan makrifat dan pengenalan kepada Allah SWT.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Nida menyampaikan pandangannya tentang betapa mudahnya jalan mengenal Sang Pencipta apabila dilakukan dengan ketulusan hati.

“Untuk mengenal Allah itu sangat mudah, bahkan lebih cepat daripada membalikkan telapak tangan,” tuturnya.

Kalimat singkat tersebut menghadirkan perenungan panjang bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebuah pesan bahwa kedekatan dengan Allah sejatinya bukan perkara rumit, melainkan tentang keikhlasan dan kesungguhan hati dalam mencari-Nya.

Sebagai tali persaudaraan serta cendera mata, H. Sidik memberikan kenang-kenangan berupa satu bilah benda pusaka yang telah lama hilang. Anehnya, setelah kedatangan Sulaiman A.S., benda tersebut kembali ditemukan.

Peristiwa itu menjadi bahan perbincangan hangat di antara mereka yang hadir, seolah menambah warna tersendiri dalam pertemuan yang penuh hikmah tersebut.

Menjelang malam, mentari perlahan mulai condong ke barat. Sementara itu, perjalanan pulang menuju kampung halaman masih membentang cukup panjang. Setelah beberapa jam larut dalam suasana silaturahmi, mendengarkan petuah, bertukar pengalaman, dan menimba pelajaran kehidupan yang tak ternilai harganya, Sulaiman A.S. menyadari bahwa sudah saatnya melanjutkan perjalanan. Bagi seorang musafir, setiap pertemuan memiliki waktunya sendiri, dan setiap perpisahan selalu menyimpan harapan untuk dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.

Sebelum beranjak meninggalkan kediaman H. Sidik. Sulaiman A.S. terlebih dahulu memohon diri kepada tuan rumah. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan selama kunjungan tersebut.

“Dansanak kami pulang dulu. Ini bukan berarti memutus silaturahmi. Mudahan di lain waktu kita semua dipertemukan kembali. Karena kalau memutus silaturahmi, kami tentu tidak akan sampai ke sini. Mudahan kita semua saling mendoakan dan mendapat ridha Rasulullah SAW, karena kami ini bagaikan musafir yang tersesat dan sedang mencari jalan pulang,” ungkap Sulaiman yang akrab disapa M. Jaya.

Ucapan itu seakan menjadi penutup yang indah bagi sebuah pertemuan yang singkat namun penuh makna. Jabat tangan dan pelukan hangat mengiringi langkah kepulangan rombongan. Meski kendaraan kembali melaju meninggalkan Sungai Puting, berbagai nasihat, ketulusan pelayanan, serta pelajaran tentang persaudaraan yang didapat hari itu tetap tertinggal di dalam hati, menjadi bekal berharga dalam menapaki perjalanan hidup berikutnya.

Meski pertemuan itu baru berlangsung untuk kedua kalinya, suasana yang terbangun terasa seperti keluarga yang telah lama saling mengenal. Tidak ada sekat formalitas, tidak ada jarak yang membatasi. Yang hadir hanyalah kehangatan persaudaraan yang lahir dari kesamaan niat dan kecintaan kepada jalan kebaikan.

Bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan seperti ini menyimpan pelajaran yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain.

Di balik debu jalanan, panjangnya perjalanan, dan rasa lelah yang menyertai, selalu ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan. Ada pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, penghormatan kepada tamu, serta makna persaudaraan yang tidak dibatasi hubungan darah.

Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan. Perjalanan adalah tentang bagaimana hati belajar memahami kehidupan, mengenali diri sendiri, dan menemukan jejak-jejak hikmah yang Allah hamparkan di setiap langkah manusia. (***)

Continue Reading

Kalsel

Perjalanan Menuju Sang Mursyid

Published

on

Penulis : (Al-Faqir) Ihsan

TANJUNG, onlinekoranbarito.com -Dingin embun dini hari menyelimuti jalanan Kalimantan Selatan ketika sebuah mobil perlahan membelah sunyi dari Barabai menuju Kelua, Kabupaten Tabalong, Selasa (12/5/2026).

Namun perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat. Di balik deru mesin dan kabut subuh, tersimpan perjalanan batin yang sarat makna spiritual.

Jarum jam menunjukkan sepertiga akhir malam saat rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Di balik kemudi, Sulaiman A.S., yang akrab disapa M. Jaya, tampak tenggelam dalam renungan panjang seorang musafir yang sedang meniti jalan ruhani.

Lantunan azan Subuh menggema ketika mereka melintas di Kabupaten Balangan.
Rombongan pun singgah sejenak di sebuah warung sederhana. Sepiring lontong dan nasi kuning hangat menjadi pengganjal lapar di tengah perjalanan panjang. Namun bagi mereka, nilai perjalanan itu jauh melampaui sekadar tujuan duniawi. Ada kerinduan jiwa yang sedang dituntun menuju sebuah pertemuan istimewa.

Pagi mulai menampakkan cahaya ketika rombongan berhenti di sebuah masjid untuk beristirahat sambil menunggu rekan kerja dari Kominfo Tabalong yang dijadwalkan menyerahkan cendera mata berupa keripik singkong buatan Sulaiman A.S.

Waktu berjalan cukup lama. Kesabaran pun diuji ketika Sekretaris Kominfo Tabalong belum juga hadir karena agenda Zoom Meeting.Namun penantian itu justru menjadi pelajaran tersendiri.

“Kadang perjalanan bukan tentang cepat sampai, tetapi bagaimana hati belajar sabar di setiap persinggahan,” ujar Sulaiman lirih.

Kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Setelah urusan selesai, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama yang telah lama dinanti.

Di sepanjang jalan, telepon genggam Sulaiman terus berdering. Dari ujung sambungan, seorang ulama sepuh yang telah lama menetap di Makkah tampak berkali-kali menanyakan posisi rombongan. Nada suaranya memancarkan kerinduan seorang guru kepada murid yang lama tak bersua.

“Anakda sudah sampai di mana?” ucap beliau singkat, namun penuh makna.

Sosok yang menanti itu adalah H. Jaryal Ilmi bin KH Bahran Kasim bin Kasim Ibnu Qusin Al-Banjari, seorang tokoh religius yang dikenal luas di lingkungan spiritual dan disebut sebagai anak angkat keluarga kerajaan Arab Saudi.

Bagi Sulaiman, KH. Jaryal bukan sekadar guru biasa. Ia adalah mursyid, pembimbing rohani dalam perjalanan ma’rifat sosok yang diyakini menjaga arah batin muridnya agar tetap istiqamah di jalan Allah.

Menjelang malam, sekitar pukul 19.05 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kelua. Setelah beristirahat sejenak, mereka menuju kediaman sang guru. Dari balik pagar rumah, tampak seorang pria berpakaian koko bewarna putih serta mengenakan peci putih telah berdiri menanti. Wajahnya teduh. Tatapannya hangat.
Seolah pertemuan itu telah lama ditulis dalam takdir.

Lelah perjalanan seakan luruh begitu saja ketika langkah kaki memasuki rumah sederhana penuh cahaya itu. Percakapan mengalir hangat di ruang lantai satu. Tak ada kemewahan, namun suasana dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Sebab ada perjumpaan yang hanya bisa dipahami oleh hati.Di tengah obrolan malam itu, Sulaiman menceritakan pengalaman ganjil yang pernah dialaminya. Suatu malam saat bekerja, ia melihat sosok istrinya berdiri di depan kamar dan meminta dibuatkan teh.

Namun ketika dihampiri, sang istri ternyata sedang tertidur pulas dan mengaku tak pernah keluar kamar.
Keanehan itu semakin terasa ketika terdengar suara dari arah kamar mandi, padahal tak seorang pun berada di dalamnya.

Mendengar kisah tersebut, KH. Jaryal lalu membagikan pengalaman spiritual yang pernah beliau alami. Beberapa bulan lalu, seorang lelaki berpakaian jubah putih serta memakai Imamah (bulang) datang menawarkan emas dalam jumlah fantastis bernilai miliaran rupiah. Namun di tengah tafakur, beliau mendengar suara lembut dalam hati

“Syukuri saja apa yang sudah ada.”

Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran mendalam tentang hakikat kehidupan. Bahwa tidak semua yang tampak indah adalah karunia, dan tidak semua ujian hadir dalam bentuk kesulitan.

Kadang dunia datang membawa gemerlap kemewahan hanya untuk menguji keikhlasan manusia.

Perjalanan panjang itu akhirnya meninggalkan satu pesan besar istiqamah bukan hanya tentang bertahan dalam kesulitan, tetapi juga tentang tetap rendah hati ketika dunia datang menawarkan segala kemewahannya. (***)

Continue Reading

Barabai

Memaknai Perjalanan Sang Musafir

Published

on

Penulis : (Al-Faqir) Ihsan

BARABAI, onlinekoranbarito. com -Terik matahari yang membakar jalanan tak mampu menyurutkan langkah rombongan musafir yang dipimpin Sulaiman A.S. sapaan akrabnya M Jaya saat memulai perjalanan menuju Kabupaten Barito Timur, Senin (11/5/2026).

Perjalanan dimulai dari Komplek Batola Residence Blok H Site III Nomor 17, Handil Pinang II, RT 12, Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala (Kalsel) . Di balik keberangkatan itu, terselip suasana haru yang menyelimuti keluarga yang ditinggalkan.

Tatapan penuh doa dan lambaian tangan mengiringi mobil yang perlahan menjauh dari halaman rumah. Meski berat meninggalkan orang-orang tercinta, perjalanan panjang itu tetap dilanjutkan demi menjalankan tanggung jawab dan menapaki pengalaman baru dalam kehidupan.

Sepanjang perjalanan menuju Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur yang dikenal dengan slogan “Gumi Jari Janang Kalalawah”, rombongan diselimuti berbagai rasa. Rindu mulai tumbuh, sementara harapan akan pengalaman baru terus menyertai langkah mereka.

Namun, malam itu menghadirkan sebuah persinggahan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.

Di tengah perjalanan, rombongan memutuskan singgah di Hulu Sungai Tengah (HST), tepatnya di Barabai, jalan tol Desa Banua Binjai, untuk menemui sosok yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok.

Ia dikenal masyarakat dengan sebutan “Amang Viral”, bernama Abdurrahman, yang sebelumnya dikenal dengan nama Ranggai sebelum memeluk agama Islam.

Setibanya di lokasi, suasana sederhana langsung menghadirkan kesan mendalam. Suara mesin mobil berhenti di depan sebuah gubuk sederhana yang dikelilingi kain kuning melingkar.

Pemandangan itu memunculkan rasa penasaran sekaligus kekaguman bagi rombongan.

Menariknya, pintu rumah sudah terbuka bahkan sebelum mereka tiba sepenuhnya, seolah menjadi pertanda bahwa kedatangan itu telah dinanti.

“Assalamualaikum, di mana dingsanak?” sapa Sulaiman dengan nada hangat penuh keakraban.

Dalam budaya Banjar, kata dingsanak bukan sekadar sapaan biasa, melainkan simbol persaudaraan meski tanpa hubungan darah.

Tak lama kemudian, tampak seorang pria mengenakan kaos hitam oblong dan celana pendek berjalan mendekat sambil melempar senyum tipis.

“Inilah orangnya,” ujar salah seorang yang nengenakan kaos hitam oblong singkat.

Obrolan Sederhana Sarat Makna Rombongan kemudian dipersilakan duduk dan beristirahat setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Suasana perlahan mencair. Obrolan hangat mengalir layaknya keluarga lama yang kembali dipertemukan.

Di atas meja sederhana tersaji kopi hangat, terang bulan, martabak, hingga keripik singkong yang dibawa oleh Sulaiman. Namun malam itu bukan sekadar tentang jamuan makanan, melainkan percakapan yang sarat makna kehidupan.

Dalam perbincangan tersebut, Amang Viral menyampaikan pandangannya tentang hidup, kesederhanaan, dan ketulusan.

“Dalam hidup ini jangan ada rasa pengakuan diri. Kalau masih ingin dilihat manusia, itu namanya riya,” ucapnya pelan.

Ia juga menceritakan masa ketika dirinya pernah menyamar sebagai orang gila selama tiga tahun.

“Saya dulu tiga tahun menyamar jadi orang gila. Kenapa saya lakukan? Karena itu kesenangan saya,” katanya.

Namun “gila” yang dimaksud bukan kehilangan akal sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Baginya, seseorang yang “gila” kepada Sang Khalik tidak lagi sibuk memikirkan penilaian manusia. Yang terpenting adalah ketulusan hati dalam menjalani kehidupan.

Ia meyakini, selama seseorang masih merasa dirinya lebih baik daripada orang lain, maka kesombongan dan riya masih bersemayam di dalam dirinya.

Perjalanan yang Mengubah Cara Pandang
Persinggahan malam itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat beristirahat.

Di tengah perjalanan menuju Barito Timur, rombongan justru menemukan pelajaran tentang kerendahan hati, keikhlasan, dan cara memandang hidup dari sudut yang berbeda.

Sebab terkadang, perjalanan terjauh bukanlah tentang berpindah tempat, melainkan perjalanan untuk memahami diri sendiri. (***)

Continue Reading

Banjarmasin

Gubernur Muhidin Kembali Rombak Pejabat Pemprov Kalsel

Published

on

BANJARMASIN, onlinekoranbarito.com — Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin kembali melakukan perombakan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebanyak 168 pejabat struktural dan fungsional resmi dilantik dan diambil sumpah jabatan di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Jumat (8/5/2026).

Pelantikan tersebut turut dihadiri Ketua DPRD Kalsel H. Supian HK, jajaran tenaga ahli gubernur, asisten, staf ahli, serta kepala SKPD lingkup Pemprov Kalsel.

Rotasi dan promosi jabatan kali ini mencakup sejumlah posisi strategis di berbagai sektor, termasuk penguatan tenaga administrasi dan tata usaha di sekolah-sekolah se-Kalimantan Selatan.

Dalam pelantikan itu, dua pejabat eselon II yang dilantik yakni Nasrullah sebagai Kepala Biro Organisasi dan Munazir Hadrani sebagai Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa. Selain itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rusdi Hartono kembali dikukuhkan pada jabatannya.

Dalam arahannya, Gubernur H. Muhidin menegaskan pentingnya menjaga integritas serta loyalitas terhadap pimpinan daerah, mulai dari gubernur, wakil gubernur hingga sekretaris daerah.

“Apapun keputusan yang ditetapkan, saya minta diterima dengan ikhlas dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” tegas Muhidin.

Ia mengakui mutasi, rotasi maupun promosi jabatan kerap memunculkan beragam respons. Namun menurutnya, seluruh keputusan dilakukan demi kepentingan organisasi dan peningkatan kinerja pemerintahan.

Muhidin juga menegaskan, meski secara aturan rotasi jabatan umumnya dilakukan setelah dua tahun, Pemprov Kalsel menerapkan evaluasi berkala setiap enam bulan.

“Saya meminta Sekda dan kepala dinas memberikan penilaian kinerja secara objektif. Jika dalam enam bulan kinerjanya kurang optimal, maka bisa segera dievaluasi,” ujarnya.

Tak hanya kepada pejabat, Muhidin juga mengingatkan pentingnya dukungan keluarga, khususnya istri pejabat, dalam mendukung tugas pemerintahan dan pembangunan daerah.

“Sinergi antara pejabat dan organisasi pendamping diharapkan berjalan selaras demi kelancaran program pembangunan di Kalimantan Selatan,” katanya.

Sebelum pelantikan pejabat struktural dan fungsional, Gubernur H. Muhidin juga melantik pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Kalsel periode 2026–2031.

Ia berharap pengurus Baznas yang baru mampu mengelola dana umat secara profesional dan sesuai syariat Islam.

Baznas Provinsi Kalsel periode 2026–2031 dipimpin Ilham S.ThI bersama empat anggota lainnya.

Sementara itu, Kepala BKD Kalsel Noryadi merinci total pejabat yang dilantik terdiri dari dua pejabat eselon II yang dilantik dan satu pejabat eselon II dikukuhkan, 39 pejabat administrator (eselon III), 126 pejabat pengawas (eselon IV), serta 25 pejabat fungsional dari berbagai jenjang.

Menurut Noryadi, seluruh pejabat yang baru dilantik akan menjalani evaluasi kinerja secara berkala setiap enam bulan sesuai arahan gubernur.

“Jika nilainya sangat baik, rotasi bisa dilakukan lebih cepat meskipun belum dua tahun menjabat,” jelasnya.

Ia juga menyebut saat ini masih terdapat tiga posisi eselon II yang kosong, yakni Kepala Dinas ESDM, Staf Ahli, dan Kepala Badan Kesbangpol Kalsel yang pengisiannya menunggu arahan lebih lanjut dari gubernur. (adv/kb).

Continue Reading

Banjarbaru

Kasad Apresiasi Dukungan Pemprov Kalsel Bangun Kodam X Lambung Mangkurat

Published

on

BANJARBARU, onlinekoranbarito.com — Dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terhadap pembangunan Markas Komando Daerah Militer (Kodam) X Lambung Mangkurat mendapat apresiasi dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Apresiasi tersebut disampaikan saat kegiatan pemancangan tiang perdana atau groundbreaking pembangunan Kodam X Lambung Mangkurat di kawasan Lapangan Tembak Makorem 101/Antasari, sekitar kawasan perkantoran Pemprov Kalsel di Banjarbaru, Rabu (6/5/2026).

“Saya ucapkan terima kasih kepada gubernur dan jajaran yang telah menginisiasi pembangunan Kodam X Lambung Mangkurat yang diketahui bersama merupakan Kodam lama,” ujar Maruli.

Dalam kesempatan itu, Kasad juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin atas dukungan Pemerintah Provinsi Kalsel bersama 13 pemerintah kabupaten/kota terhadap pembangunan Kodam tersebut.

Gubernur H. Muhidin menyatakan, sinergi antara Pemerintah Provinsi Kalsel dengan jajaran TNI selama ini telah terjalin dengan baik dan diharapkan semakin kuat dengan hadirnya Kodam X Lambung Mangkurat di Banua.

“Kolaborasi berjalan terus antara TNI dan pemerintah provinsi seperti yang terjalin selama ini,” tegas Muhidin.

Ia juga berharap keberadaan Kodam X Lambung Mangkurat nantinya mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Kalimantan Selatan.

Pembangunan Kodam X Lambung Mangkurat dilakukan di atas lahan seluas sekitar 20 hektare dan dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalsel.

Kepala Dinas PUPR Kalsel, Muhammad Yasin Toyib menjelaskan, total anggaran pembangunan mencapai Rp280 miliar yang bersumber dari Kementerian Pertahanan, Pemerintah Provinsi Kalsel, serta dukungan 13 pemerintah kabupaten/kota.

“Dukungan alokasi dana dari Pemprov Kalsel sebesar Rp90 miliar, pemerintah kabupaten/kota masing-masing Rp5 miliar, dan Kementerian Pertahanan Rp140 miliar,” jelas Yasin.

Ia menyebut, bangunan Kodam nantinya akan memiliki enam lantai dengan berbagai fasilitas penunjang dan ditargetkan selesai pada tahun 2027.

Prosesi groundbreaking ditandai dengan penekanan tombol sirene oleh Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, Gubernur Kalsel H. Muhidin, dan Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin.

Pembangunan Kodam X Lambung Mangkurat merupakan bagian dari Rencana Strategis (Renstra) TNI Angkatan Darat yang menargetkan setiap provinsi di Indonesia memiliki markas komando daerah sendiri.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel Muhammad Syarifuddin, jajaran Forkopimda, pimpinan instansi vertikal, anggota DPR dan DPD RI, pejabat lingkup Pemprov Kalsel, serta tamu undangan lainnya. (adv/kb).

Continue Reading

Banjarmasin

Pemprov Kalsel Fokus Perkuat SDM dan Transformasi Ekonomi Daerah

Published

on

BANJARMASIN, onlinekoranbarito.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menerima sejumlah rekomendasi dari DPRD Provinsi Kalsel terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Gubernur Kalimantan Selatan Tahun Anggaran 2025 dalam rapat paripurna di Gedung DPRD Kalsel, Selasa (5/5/2026).

Rekomendasi tersebut diterima langsung Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, M. Syarifuddin, yang mewakili Gubernur Kalsel H. Muhidin.

Dalam sambutannya, Sekdaprov M. Syarifuddin menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD Kalsel yang telah melakukan pembahasan serta memberikan berbagai masukan terhadap LKPj Gubernur Tahun Anggaran 2025.

“Rekomendasi LKPj Gubernur ini sangat berarti untuk memperbaiki kinerja penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Provinsi Kalimantan Selatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, capaian pembangunan sepanjang 2025 menunjukkan arah positif dan menjadi pijakan penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan ke depan, khususnya terkait kualitas pelayanan publik, pemerataan pembangunan, dan efektivitas kebijakan.

Menurutnya, sejumlah isu strategis seperti pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, ketenagakerjaan, hingga transformasi ekonomi daerah menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Pemprov Kalsel akan mengarahkan kebijakan secara lebih terintegrasi, berbasis data, berorientasi pada hasil, dan berpihak pada kelompok yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut, Sekdaprov didampingi para asisten, staf ahli, tenaga ahli gubernur, serta pimpinan SKPD lingkup Pemprov Kalsel.

Selain itu, Pemprov Kalsel juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, memperluas kesempatan kerja, dan mempercepat transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.

Sebelumnya, LKPj Gubernur Kalsel Tahun 2025 telah dibahas empat panitia khusus (Pansus) DPRD Kalsel yang meliputi bidang hukum dan pemerintahan, ekonomi dan keuangan, hingga pembangunan dan infrastruktur.

Rekomendasi DPRD Kalsel disampaikan Wakil Ketua DPRD Kalsel, Desy Octaviasari. Ia menyebut rekomendasi tersebut menjadi bahan penting dalam penyusunan perencanaan pembangunan dan penganggaran tahun berikutnya agar kebijakan pembangunan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.

“Rekomendasi DPRD menjadi penghubung antara evaluasi kinerja masa lalu dengan perencanaan pembangunan di masa mendatang,” ujarnya.

Selain agenda rekomendasi LKPj, rapat paripurna juga membahas laporan DPRD Kalsel terkait usulan pembentukan calon daerah otonom baru Kabupaten Kambatang Lima di Provinsi Kalimantan Selatan. (adv/kb).

Continue Reading

Kalsel

Pemprov Kalsel Matangkan Pengelolaan Kawasan Tugu Nol Kilometer

Published

on

BANJARMASIN, onlinekoranbarito.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menargetkan kawasan Tugu Nol Kilometer Banjarmasin mulai beroperasi pada tahun 2026 sebagai destinasi wisata terpadu sekaligus ruang publik baru di pusat Kota Banjarmasin.

Persiapan pembukaan kawasan terus dilakukan. Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus, Direktur Utama PT Bangun Banua Kalsel H. Afrizaldi, serta jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalsel melakukan peninjauan langsung ke lokasi, Minggu (3/5).

“Kita memantau dan mengontrol kawasan Tugu Nol Kilometer. Untuk naik ke tower nantinya menggunakan karcis. Di kawasan ini terdapat ruangan pertunjukan berbentuk bulat, serta spot yang bisa dimanfaatkan untuk kafe,” ujar Muhidin.

Gubernur menjelaskan, pengelolaan kawasan nantinya akan melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yakni PT Bangun Banua Kalsel. Saat ini pemerintah masih menyiapkan draft kerja sama sebagai dasar pengelolaan kawasan wisata tersebut.

“Bangun Banua akan mengelola kawasan ini. Kita siapkan dulu draft sistem kerja samanya, setelah itu baru kita buka bersama,” katanya.

Sebagai kawasan wisata perkotaan, Tugu Nol Kilometer akan dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti panggung pertunjukan seni budaya dan hiburan, area santai, hingga kafe untuk masyarakat.

Akses di area bawah kawasan nantinya tetap gratis, sedangkan pengunjung yang ingin naik ke menara akan dikenakan tarif khusus.

“Di bawah tidak membayar, tapi kalau naik ke atas tugu ada biaya. Ini bagian dari pengelolaan agar kawasan tetap terawat,” jelas Muhidin.

Ia menegaskan, peresmian kawasan akan dilakukan setelah seluruh konsep pengelolaan dan kesiapan teknis dinyatakan siap.

Direktur Utama PT Bangun Banua Kalsel H. Afrizaldi menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjalankan arahan gubernur dalam pengelolaan kawasan tersebut.

“Pada prinsipnya kami sudah mendapat arahan untuk menjadi pengelola kawasan Nol Kilometer. Hari ini kami bersama Gubernur dan PUPR meninjau langsung kesiapan lokasi,” ujarnya.

Menurutnya, pihaknya tengah menyiapkan konsep pengelolaan yang tidak hanya berfokus pada sektor wisata, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan pelaku UMKM.

“Kawasan ini akan kita dorong menjadi destinasi yang punya nilai jual. Tidak hanya sebagai tempat melihat menara, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi daerah,” katanya.

Meski secara konsep dinilai siap, Afrizaldi mengungkapkan masih terdapat sejumlah infrastruktur yang memerlukan pemeliharaan, terutama yang menjadi kewenangan Dinas PUPR Kalsel.

“Kita harus berkoordinasi dengan PUPR karena masih ada beberapa infrastruktur yang perlu maintenance. Kesiapan ini yang menentukan kapan kawasan bisa dioperasikan,” jelasnya.

Aspek keselamatan dan kenyamanan pengunjung juga menjadi perhatian utama, termasuk pengaturan sirkulasi naik dan turun menara serta pengamanan kawasan yang akan melibatkan TNI dan Polri.

Selain itu, pengaturan parkir juga dipersiapkan agar tidak mengganggu arus lalu lintas di sekitar kawasan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan optimistis pengembangan kawasan Tugu Nol Kilometer akan menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus penggerak ekonomi lokal melalui integrasi wisata, hiburan, seni budaya, dan ekonomi kreatif.

“Kami yakin kawasan ini akan menjadi pusat aktivitas masyarakat karena dilengkapi berbagai fasilitas hiburan dan pendukung lainnya,” pungkas Afrizaldi. (adv/kb).

Continue Reading

Kalsel

Sulaiman Belajar Keteladanan Sosok Sang Guru Majelis Allam Larut Merangkul Semua Umat

Published

on

Keterangan Foto : Dari kiri baju putih M. Jaya atau sering disapa Sulaiman foto tengah baju hitam Anang Rapel mantan Kades Sungai Seluang selama 12 tahun sesepuh atau paman dari Guru Syarwani yang akrab di sapa Guru Isar Sahibol Majelis Allam Larut atau Mahabbaturrasul

Penulis: Al-Faqir (Ihsan)

 

MARABAHAN, onlinekoranbarito.com – Malam itu menggigil lebih dalam dari biasanya. Rintik hujan turun perlahan, membasahi dedaunan yang bergoyang pelan diterpa angin. Jalanan lengang, hanya suara serangga malam yang sesekali memecah sunyi, seolah menjadi latar alami bagi sebuah perjalanan yang tak sekadar berpindah tempat, tetapi juga menyusuri ruang batin.

Foto baju putih M. Jaya sering disebut Sulaiman bersama Guru Syarwani atau Guru Isar Sahibol Majelis Mahabbaturassul atau Allam Larut di Sungai Pantai Desa Samuda, Kecamatan Belawang, Barito Kuala Marabahan

Dari sudut Komplek Batola Residence, Handil Pinang RT 12, Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, langkah itu dimulai. Sabtu malam (2/5/2026), rombongan PT Barito Media Jaya Group bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah.

Tanpa hiruk pikuk, tanpa gemuruh keramaian hanya deru mesin mobil yang mengiringi perjalanan penuh tujuan.
Arah mereka jelas sebuah Majelis Sholawat dan Zikir bernama “Allam Larut” di Desa Samuda, Kecamatan Belawang.

Perjalanan malam itu bukan tanpa ujian. Jalanan gelap membentang, diapit pepohonan tinggi yang menjulang seperti lorong sunyi.

Namun, justru dalam keheningan itulah makna perjalanan terasa semakin dalam setiap kilometer yang ditempuh seakan menjadi bagian dari laku spiritual, perjalanan yang melibatkan hati, bukan sekadar raga.

Nama majelis yang dituju, “Allam Larut”, menyimpan filosofi mendalam Aku Lahir Lantaran Abah Mama, Larut Aku Didalam Roh Ketuhanan. Sebuah makna yang mencerminkan perjalanan kembali kepada asal, kepada Sang Pencipta.

Setibanya di lokasi, suasana berubah drastis. Kehangatan langsung terasa. Keakraban menyambut, menggantikan dingin malam yang sebelumnya menyelimuti. Rombongan yang dipimpin Sulaiman disambut Sohibul Majelis, Ustad Syarwani, bersama para jamaah dan tamu undangan.

“Ulun (saya)besok tidak bisa berhadir, jadi ulun sempatkan malam ini,” ujar Sulaiman dengan suara rendah namun sarat ketulusan.

Dalam suasana santai namun penuh makna, Ustad Syarwani sempat mengenang sosok M. Jaya di masa lalu. Ia menyebut, kedatangan M. Jaya dahulu jauh dari kesan formal hanya mengenakan pakaian sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan kedermawanan yang membekas.

“Beliau ini sangat dermawan. Setiap acara majelis sering memberikan beras. Alhamdulillah, jamaah di sini merasakan manfaatnya,” tutur Ustad Syarwani kepada para khadam.

Ia menegaskan, nilai seseorang tidak terletak pada penampilan fisik semata, melainkan pada pancaran batin yang diyakini sebagai tajalli dari akhlak Nabi Muhammad SAW.

Kini, perjalanan hidup itu memasuki babak baru. M. Jaya telah berganti nama menjadi Sulaiman meninggalkan identitas lama yang pernah melekat.

“Ulun sudah berganti nama, diberi gelar oleh abah angkat di Kalua,” ucap Sulaiman dengan senyum lirih, menandai transformasi yang tak hanya bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah.

Kehadiran rombongan malam itu juga bertepatan dengan undangan walimatul urus (resepsi perkawinan) putra keempat Sohibul Majelis yang akan digelar keesokan harinya. Namun lebih dari sekadar memenuhi undangan, pertemuan tersebut menjelma menjadi ruang silaturahmi yang sarat makna.

Percakapan mengalir alami. Dari sekadar sapaan, berkembang menjadi diskusi tentang ilmu ma’rifat. Ditemani secangkir kopi hangat, suasana perlahan berubah hening. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena setiap kalimat yang terucap mengandung kedalaman makna.

Waktu berjalan tanpa terasa. Malam pun mencapai sepertiganya. Perjalanan harus berlanjut. Rombongan kembali bergerak menuju tujuan berikutnya Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin. Rasa lelah mulai terasa, namun tak satu pun mengeluh. Seolah perjalanan ini telah menjadi bagian dari pengabdian.

Langkah akhirnya terhenti di Masjid Keramat Baitun Nur, Sungai Rutas RT 07. Tempat sederhana itu menjadi persinggahan memberi ruang istirahat, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa.

Malam semakin larut. Sunyi kembali menyelimuti.Namun kali ini, sunyi itu tidak lagi kosong.Ia telah terisi oleh pengalaman, oleh makna, dan oleh perjalanan yang tak hanya ditempuh dengan langkah, tetapi juga dengan hati. (“”).

Continue Reading

Populer