Meniti Gelap Malam Mengantar Cahaya Al-Qur’an
Penulis : Eka Sri Tanjung Jaya
MARABAHAN, onlinekoranbarito.com – Malam perlahan turun menyelimuti angin beremhembus lembut membelah gelap yang kian temaram. Di antara sunyinya malam, tampak sepasang suami istri melangkah menyusuri jalan setapak dari Handil Pandan RT 11, Desa Sungai Lumbah, menuju Komplek Batola Residence, Handil Pinang II, RT 12, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kamis (27/8/2026).
Langkah mereka mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun di balik perjalanan itu tersimpan sebuah perjuangan yang tak semua orang mampu menjalaninya. Mereka berjalan bukan untuk mencari harta, bukan pula mengejar jabatan, melainkan membawa cahaya ilmu Al-Qur’an dari satu rumah ke rumah lainnya.
Mereka adalah Ihsan, yang akrab disapa Sambialaw, bersama sang istri. Hampir setiap malam mereka menyisihkan waktu dan tenaga untuk mengajarkan baca tulis Al-Qur’an kepada para murid di Komplek Batola Residence.
Lelah tentu menjadi teman dalam perjalanan. Jalanan yang gelap, cuaca yang tak menentu, hingga waktu istirahat yang berkurang menjadi bagian dari pengorbanan yang mereka jalani. Namun semua itu tak pernah mampu memadamkan semangat mereka.
“Bagi kami, lelah itu akan hilang ketika melihat seseorang mulai mengenal huruf-huruf Al-Qur’an, mampu membaca ayat demi ayat, dan semakin dekat kepada Allah SWT,” tutur Ihsan.
Perjalanan dakwah dari rumah ke rumah itu sering kali berakhir menjelang tengah malam.
Namun keikhlasan yang tertanam di dalam hati membuat setiap langkah terasa ringan. Mereka meyakini bahwa setiap huruf yang diajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan ketika usia tak lagi menyertai.
Di salah satu sudut Komplek Batola Residence, Blok H, Site III No. 17 berdiri sebuah rumah yang selalu menjadi tempat persinggahan mereka. Rumah itu milik Sulaiman A.S., atau yang akrab disapa M. Jaya. Meski usianya telah memasuki kisaran 45 tahun, semangatnya untuk belajar Al-Qur’an tak pernah surut.
Baginya, usia bukanlah alasan untuk berhenti menuntut ilmu agama. Justru di sisa umur yang dimiliki, ia ingin semakin mendekatkan diri kepada Sang Khalik melalui kalam-Nya yang suci. Sebuah kalimat yang pernah diucapkan Sulaiman masih teringat kuat dalam benak Ihsan.
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar mengaji dan membaca Al-Qur’an. Selagi kita masih hidup, menuntut ilmu agama tidak pernah tamat. Harus terus diulang dan dipelajari agar selalu dekat dengan Kalamullah.” ucapnya dengan nada rendah.
Perjalanan Sulaiman dalam mempelajari Al-Qur’an dimulai pada Januari 2020. Saat itu, ia mulai belajar dari tingkat Iqra bersama Ihsan yang akrab disapa Guru Sambialaw.
Dengan ketekunan dan kesabaran, Sulaiman menempuh proses pembelajaran selama kurang lebih tiga tahun, melewati enam jilid Iqra hingga akhirnya mampu membaca Al-Qur’an. Baginya, setiap tahapan yang dilalui merupakan bagian dari ikhtiar untuk semakin memahami dan mendekatkan diri kepada Kalamullah.
Pada awalnya, kegiatan belajar mengaji tersebut hanya diikuti oleh Sulaiman bersama istri dan anak-anaknya. Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan majelis kecil itu mulai diketahui warga sekitar Komplek Batola Residence.
Semakin banyak masyarakat yang tertarik bergabung untuk belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam ilmu agama. Dari rumah sederhana milik Sulaiman, tumbuh semangat kebersamaan dalam menuntut ilmu yang terus berkembang hingga kini.
Tak hanya menjadi tempat belajar Al-Qur’an, rumah Sulaiman juga rutin menjadi lokasi kegiatan amaliah setiap malam Jumat berupa pembacaan Hizib, Surah Yasin, serta siraman rohani. Kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga dan sesama muslim.
Menurut Sulaiman, persaudaraan tidak hanya terjalin karena hubungan keluarga atau kedekatan lingkungan. Melainkan karena seluruh umat Islam pada hakikatnya adalah saudara yang harus saling menjaga, menghormati, serta menjauhi permusuhan demi terciptanya ukhuwah Islamiyah yang kokoh.
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa hidayah tidak mengenal batas usia. Ketika hati terpanggil untuk belajar, maka setiap waktu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Perjuangan pasutri pengajar Al-Qur’an ini menjadi cerminan bahwa dakwah tidak selalu dilakukan dari atas mimbar yang megah.
Terkadang, dakwah hadir melalui langkah kaki yang menembus gelap malam, melalui suara yang membimbing huruf demi huruf, dan melalui kesabaran yang tak pernah meminta balasan. Rasulullah SAW bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.
Dalam berbagai riwayat juga dikenal pesan agar manusia terus belajar sejak buaian hingga liang lahat. Sebuah ajaran yang menegaskan bahwa perjalanan mencari ilmu tidak pernah mengenal kata akhir. Malam pun semakin larut.
Lampu-lampu rumah mulai dipadamkan satu per satu. Namun cahaya yang dibawa Ihsan dan istrinya tidak ikut padam. Cahaya itu terus hidup dalam hati para murid yang belajar mengeja ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Sebab sejatinya, orang-orang yang mengajarkan Kalamullah bukan hanya sedang mengajari cara membaca Al-Qur’an. Mereka sedang menyalakan pelita yang kelak akan menerangi jalan banyak manusia menuju ridha Allah SWT. (***).
